Sagalaherang Hunting Club

Komunitas Olahraga Buru Tembak Sagalaherang

SK Berburu Nomor : 461/Kpts-II/1999

Published by Nadar Kharisma under on 19.15




KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN
Nomor : 461/Kpts-II/1999
TENTANG
PENETAPAN MUSIM BERBURU DI TAMAN BURU DAN AREAL BURU
MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN,
Menimbang : 

  1. bahwa berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994, telah ditetapkan ketentuan tentang Perburuan Satwa Buru;
  2. bahwa untuk melaksanakan lebih lanjut ketentuan Pasal 7 ayat (3) Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994, maka dipandang perlu menetapkan Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan tentang Penetapan Musim Berburu di Taman Buru dan Areal Buru.
Mengingat : 

  1. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1967;
  2. Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1990;
  3. Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 1985;
  4. Peraturan Pemerintah Nomor 13 Tahun 1994;
  5. Keputusan Presiden Nomor 122/M Tahun 1998;
  6. Keputusan Presiden Nomor 192 Tahun 1998;
  7. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 138/Kpts-II/1999;
  8. Keputusan Menteri Kehutanan dan Perkebunan Nomor 245/Kpts-II/1999.
MEMUTUSKAN :
Menetapkan : 

KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN TENTANG PENETAPAN MUSIM BERBURU DI TAMAN BURU DAN AREAL BURU.
Pasal 1
(1) Berburu di taman buru dan areal buru hanya dapat dilakukan pada musim berburu.
(2) Musim berburu atas jenis satwa buru di taman buru dan areal buru adalah sebagaimana tercantum dalam lampiran keputusan ini.
(3) Penetapan musim berburu sebagaimana dimaksud dalam ayat (2) dilakukan dengan syarat sebagai berikut:
  1. keadaan populasi dan jenis satwa buru;
  2. musim kawin;
  3. musim beranak/bertelur;
  4. perbandingan jantan betina;
  5. umur satwa buru.
Pasal 2
(1) Penatapan musim berburu atas jenis satwa buru di kebun buru dilakukan oleh pemegang kebun buru.
(2) Penetapan musim berburu atas jenis satwa buru sebagai hasil penangkaran di taman buru dilakukan oleh pemegang ijin pengusahaan taman buru sesuai dengan petunjuk Menteri Kehutanan dan Perkebunan.
Pasal 3
Pemburu yang berburu di luar musim buru sebagaimana ditetapkan dalam Keputusan ini, dikenakan sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.
Pasal 4
Keputusan ini mulai berlaku sejak tanggal ditetapkan. 
Ditetapkan di : JAKARTA
Pada tanggal : 23 Juni 1999
 
MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN,
ttd.
Dr. Ir. MUSLIMIN NASUTION
Salinan sesuai dengan aslinya
KEPALA BIRO HUKUM DAN ORGANISASI,
ttd.
YB. WIDODO SUTOYO, SH, MM, MBA
NIP. 080023934
 
Salinan Keputusan ini
Disampaikan kepada Yth. :
 

  1. Sdr. Menteri Dalam Negeri
  2. Sdr. Menteri Pariwisata, Seni dan Budaya
  3. Sdr. Menteri Negara Lingkungan Hidup
  4. Sdr. Kepala Kepolisian Republik Indonesia
  5. Sdr. Gubernur Kepala Daerah Tingkat I di seluruh Indonesia
  6. Sdr. Pejabat Eselon I lingkup Departemen Kehutanan dan Perkebunan
  7. Sdr. Kepala Kantor Wilayah Departemen Kehutanan dan Perkebunan Propinsi di seluruh Indonesia
  8. Sdr. Kepala Dinas Kehutanan Dati I seluruh Indonesia
  9. Sdr. Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam seluruh Indonesia
Lampiran


LAMPIRAN KEPUTUSAN MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN
Nomor : 461/Kpts-II/1999
Tanggal : 23 Juni 1999
 

TENTANG
PENETAPAN MUSIM BERBURU JENIS-JENIS SATWA BURU DI TAMAN BURU DAN AREAL BURU

No.
JENIS SATWA BURU
MUSIM BERBURU
(BULAN)
GOLONGAN BURUNG
1
Siau/Ayam Kalimantan (Rolulus rou-rou)
Jan s/d Des
2
Merpati/Dara (Columbia livia)
Jan s/d Des
3
Tekukur (Streptospelia chinensis)
Jan s/d Des
4
Pecuk padi (Anhingga sp)
Jan s/d Des
5
Kowak maling (Nycticorac nycticorac)
Jan s/d Des
6
Kumkum putih (Dukula bicolor)
Jan s/d Des
7
Bebek rawa (Dendrocyna gugata)
Jan s/d Des
8
Angsa Irian (Anseranas semipalmata)
Jan s/d Des
9
Pucuk ular (Anhinga melanigaster)
Jan s/d Des
10
Itik raja (Todorna rajah)
Jan s/d Des
GOLONGAN SATWA KECIL
1
Bajing kelapa (Calloeciurus kalianda)
Jan s/d Des
2
Tupai tanah (Tupaia tana)
Jan s/d Des
3
Bajing tiga warna (Calloeciurus provosti)
Jan s/d Des
4
Bajing gula (Ptaurus breviceps)
Jan s/d Des
5
Bajing kepala (Calloeciurus nonatus albescens)
Jan s/d Des
6
Bajing kelapa (Calloeciurus notatus)
Jan s/d Des
7
Bajing terbang (Petaurilus hosei)
Jan s/d Des
8
Kalong (Pteropus vampyrus)
Jan s/d Des
9
Bajing coklat Sulawesi (Honnosciurus melanostis)
Jan s/d Des
10
Jelarang (Ratufa bicolor)
Jan s/d Des
11
Kelinci liar Sumatera (Nesolagus netseheri)
Jan s/d Des
12
Bajing besar paha putih (Ratufa affinis)
Jan s/d Des
13
Musang air (Vivera tangalinga)
Jan s/d Des
14
Musang Jawa (Paradoekonus hermaproditus)
Jan s/d Des
15
Musang barvata (Paguma larvata)
Jan s/d Des
16
Musang air (Viverriculta malacca)
Jan s/d Des
17
Oposum bergaris (Arctagalida trivigata)
Jan s/d Des
18
Kera ekor panjang (Macaca)
Jan s/d Des
19
Beruk (Macaca nemestriana)
Jan s/d Des
20
Lutung (Presbitis cristata)
Jan s/d Des
21
Biawak (Varanus beccari)
Jan s/d Des
22
Biawak tanjung (Varanus salvari)
Jan s/d Des
23
Biawak air tawar (Varanus salvator)
Jan s/d Des
24
Biawak totol hitam (Varanus similis)
Jan s/d Des
25
Biawak kordensis (Varanus kordensis)
Jan s/d Des
26
Biawak air tawar (Varanus kallabeck)
Jan s/d Des
27
Kedih (Presbitis thomasi)
Jan s/d Des
SATWA BESAR
1
Babi hutan (Sus scrofa, Sus vittatus, dan Sus barbatus)
Peb s/d Okt
2
Babi hutan berkutil (Sus verrucosus dan Sus verrucosus blochi)
Peb s/d Okt
3
Sapi liar (Bos javanicus)
Peb s/d Jun
4
Kerbau liar (Bubalus bubalus)
Peb s/d Jun
MENTERI KEHUTANAN DAN PERKEBUNAN,
ttd.
Dr. Ir. MUSLIMIN NASUTION
Salinan sesuai dengan aslinya
KEPALA BIRO HUKUM DAN ORGANISASI,
ttd.
YB. WIDODO SUTOYO, SH, MM, MBA
NIP. 080023934

sumber : Departemen Kehutanan Republik Indonesia

Setting Telescope

Published by Nadar Kharisma under on 19.02

Senapan angin pada saat ini cenderung menggunakan Scope yaitu merupakan alat bantu pembidik pengganti visir baik itu senapan pompa atau per.

Telescope untuk senapan angin saat ini banyak sekali model dan bentuk, dari mulai yang pendek sampai yang berukuran besar, buatan china juga buatan eropa, namun kita batasi bahwa Telescope yang kita pergunakan dengan ukuran standar senapan angin yang mempunyai kemampuan tembak terbatas.
Ukuran standar yang biasa dipergunakan rata-rata 3-7x20, 4x20, 3-9x32, 3x32, 3-9x40, ukuran tersebut dapat diartikan sbb:
- angka pertama menunjukan berapa kali pendekatan obyek.
- angka paling belakang menunjukan diameter atau ukuran lensa.

Pada dasarnya ukuran scope tergantung kebutuhan kita, disesuaikan dengan senapan yang kita miliki...contohnya : bila kemampuan akurasi senapan kita hanya sampai 20 atau 30 mtr maka scope yang dibutuhkan tentu saja cukup dengan ukuran 3-7x20 atau 4x32 (menurut versi kami).

Berkaitan dengan penggunaan telescope atau scope pada senapan angin maka yang menjadi sedikit permasalahan (khususnya bagi pemula) adalah bagaimana cara setting scope atau zeroing scope pada senapan kita?

Berikut ulasannya :
1. Pasang scope pada senapan sesuai kenyamanan kita, pemasangan scope harus lurus, terlihat dari crosshair bila terlihat miring maka luruskan, karena hal ini berpengaruh juga terhadap arah tembakan...mengingat larinya peluru sebenarnya adalah lurus melambung, selain itu bila crosshair terlihat miring pasti kita sebagai pengguna-nya tidak akan merasa nyaman.
2. Pasang kertas target pada jarak yang di inginkan.
3. Kokang senapan dan masukan peluru.....bidik dan tembakan.
4. Lihat jatuhnya peluru : perhatikan ke arah mana jatuhnya peluru.
5. Bila peluru jatuh di sebelah kiri atas target, maka :
    a. Putar stelan scope samping kearah kiri (seperti membuka sekrup) 5 klik atau sesuai kebutuhan
    b. Putar stelan scope atas kearah kanan (seperti menutup sekrup) 5 klik atau sesuai kebutuhan

3. Lakukan sampai jatuhnya peluru tepat kena titik tengah kertas target.

4. Demikian pula bila peluru jatuh pada posisi sebaliknya lakukan langkah2 diatas yang tentunya dengan arah sebaliknya.

Yang perlu diperhatikan saat kita akan men-setting scope adalah :
  • Peluru : pilih peluru yang benar2 berkualitas bagus (kami rekomendasikan peluru import)
  • Telescope : pilih telescope yang mempunyai stelan "klik"
  • Kertas Target
  • Jarak
Untuk di ingat :

1. Bila peluru susah sekali untuk jatuh pada titik tengah target (jatuhnya peluru tidak terarah), segala kemungkinan bisa terjadi, mulai dari peluru tidak cocok, laras kotor, laras berminyak atau bengkok bisa juga laras cacat, bila menggunakan peredam maka lepas dahulu peredam saat melakukan zeroing,

2. Khusus scope yang menggunakan zoom : bila senapan kita sudah zeroing, usahakan setelah melakukan zooming pada obyek, kembalikan zoom pada posisi awal, dikarenakan stelan pasti akan berubah kecuali kita mengembalikan zoom pada posisi semula.

3. Tips khusus stelan scope :

     a. Stelan Samping


  • putar stelan samping kearah kiri seperti melonggarkan sekrup maka peluru akan jatuh ke kanan target
  • putar stelan samping kearah kanan seperti mengencangkan sekrup maka peluru jatuh ke kiri target 
      b. Stelan Atas

  • putar stelan atas kearah kiri seperti melonggarkan sekrup maka peluru jatuh ke atas target
  • putar stelan atas kearah kanan seperti mengencangkan sekrup maka peluru jatuh ke bawah target
4. Zeroing keperluan berburu, tidak selalu harus nitik (grouping 2cm) karena target bergerak

Posisi Menembak

Published by Nadar Kharisma under on 18.35









"Membidik" dengan senapan angin.

Published by Nadar Kharisma under on 17.24

Akurasi selalu subjektif. Satu orang menembak pada sebuah kaleng 20 kaki jauhnya dan lain ingin menembak kaleng pada 50 meter. Keduanya menganggap senjata mereka untuk menjadi akurat jika mereka dapat mencapai target mereka. Penembak lainnya masih ingin melihat apa senapan angin yang akan dilakukan pada 100 yard.

Pada artikel ini, kita akan menemukan apa yang dapat Anda harapkan dari beberapa jenis dan bahkan beberapa model spesifik senapan angin.

Setiap produk memiliki spesifikasi yang membatasi kinerja. Laras, powerplant dan pelet adalah jantung dari setiap airgun keakuratan. Faktor-faktor lain seperti bagaimana pemicu adalah dikendalikan dan seberapa baik saham sesuai dengan penembak juga penting, tapi laras dan pelet terdiri dari sekitar 90 persen dari potensi akurasi untuk senapan angin.

Powerplant menambahkan sejumlah kecil potensi tambahan, tetapi yang mungkin menjadi semakin penting dengan beberapa jenis penembak powerplants jika tidak mempraktikkan teknik bidikan yang tepat.

Sebuah scope akan membuat lebih mudah untuk menembak setiap airgun lebih akurat, tapi itu tidak akan membuat senjata lebih akurat. Gunakan scope jika ia membantu anda menembak senapan angin seperti yang Anda inginkan untuk menembak, misalnya untuk jarak jauh menembak dan berburu, tetapi juga mempertimbangkan apakah jenis alat bantu bidik lain bahkan mungkin bekerja lebih baik untuk apa yang Anda coba lakukan. Sebagai contoh, red dot sight memungkinkan target akuisisi lebih cepat daripada scope, tetapi tidak tepat. Jika Anda tidak membutuhkan akurasi yang presisi, bisa jadi pilihan yang baik.

Bagaimana mengukur sebuah grup ditembak
Jika kita akan berbicara tentang keakuratan, kita harus menggunakan beberapa mudah dipahami cara membandingkan ditembak relatif penempatan. Ukuran kelompok Shot sejauh ini merupakan cara paling populer untuk melakukan hal ini. Kebetulan, istilah “kelompok” adalah benar; itu bukan sebuah pola. Sebuah pola penyebaran tembakan dari senapan angin; sebuah kelompok adalah susunan tembakan dari senjata yang menembak hanya satu proyektil dengan masing-masing ditembak.

Mengukur grup menembak tidaklah sulit, tetapi ada beberapa hal yang perlu Anda ketahui. Cara yang paling umum untuk menyatakan ukuran grup tembakan adalah jarak antara pusat dari dua tembakan terjauh terpisah. Hal ini sering disingkat menjadi istilah “pusat-ke-pusat,” atau “CTC (Center To Center)”

Mengukur sebuah kelompok dengan mengukur jarak dari pinggiran jauh dari kedua terluas tembakan, dan kemudian mengurangi satu peluru diameter untuk mendapatkan jarak antara pusat-pusat. Jika kedua terluas tembakan dari sekelompok ,22-langkah tembakan kaliber .177 di terlebar mereka kejauhan, jarak CTC adalah 1,0″. Matematika sederhana, dan bekerja sama untuk semua kelompok dan semua kaliber.

Ketika Anda mengukur grup menyebar, jangan lupa bahwa sebagian besar peluru akan merobek wadcutters kecuali raggedly melalui pemotongan kertas bukan lubang yang bersih. Anda harus menemukan ujung sejati dua lubang terluas. Pada awalnya membantu untuk menempelkan pelet di lubang-lubang untuk memvisualisasikan di mana ujung-ujungnya berada. Dengan beberapa pengalaman, menjadi lebih mudah untuk memperkirakan di mana ujung-ujungnya adalah dan Anda tidak perlu menggunakan pelet.

Anda dapat mengukur jarak di seluruh kelompok dengan penggaris atau Anda dapat menggunakan sigmat. Apa pun yang Anda pilih, jangan menipu diri sendiri bahwa suatu alat ukur yang lebih tepat akan membuat pengukuran lebih akurat. Hanya karena Anda mengukur dalam per seribu inchi tidak berarti Anda melakukannya secara akurat. Hanya membuat hasil suara lebih mengesankan, seperti 0,125″ kelompok, dibandingkan dengan 1/8″ kelompok.

 

Lipsum

Sagalaherang Hunting Club:
Komunitas Pencinta Senapan Angin dan Olahraga Buru Tembak di Sagalaherang-Panawangan -Ciamis

Followers